
Munir Said Thalib atau seorang yang akrab disapa Munir, adalah seorang Pejuang penegak HAM kelahiran asal Malang, 18 Desember 1985. Beliau mendedikasikan dirinya untuk organ Pergerakan penegak HAM. Kematiannya pada saat perjalanan menuju Amsterdam pada tanggal 7 september 2004.
Semasa hidupnya beliau tidak pernah lelah menyuarakan keadilan untuk para korban kasus pelanggaran HAM, Beliau sangat peduli dengan korban-korban ketidakadilan di Negeri ini. Banyak korban yang telah diadvokasi sampai kasus nya terselesaikan.
Semasa hidupnya beliau tidak pernah lelah menyuarakan keadilan untuk para korban kasus pelanggaran HAM, Beliau sangat peduli dengan korban-korban ketidakadilan di Negeri ini. Banyak korban yang telah diadvokasi sampai kasus nya terselesaikan.
Munir telah menyumbangkan sesuatu yang besar untuk para korban terlebih untuk Negeri ini. Tapi sayang nya sampai detik ini kasus pembunuhan Beliau belum juga terselesaikan.
8 tahun sudah lamanya kasus beliau tergantung di Kejaksaan Agung. Bahkan yang lebih hebatnya tersangka pembunuhan Munir sampai detik ini masih bisa berkeliaran dengan bebas dan menghirup udara segar.
7 september 2012 ini banyak para penggiat HAM yang merasa peduli dengan kasus pembunuhan Munir, terbukti bahwa dibeberapa wilayah di Indonesia banyak masyarakat yang menyuarakan Keadilan untuk Munir, mereka melakukan aksi untuk menuntut keadilan dan kejelasan untuk kasus Munir.
“ Jika Munir saja bisa dibunuh dengan mudah dan kasus nya bisa dengan mudah pula diacuhkan oleh para penentu keadilan di Negeri ini, bagaimana dengan masyarakat biasa “ kata Koordinator KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir) Astri.
Pemimpin tertinggi di Negeri ini pun pernah mengeluarkan statement “ kasus Munir adalah ujian bagi sejarah (tes of our history) “. Pernyataan ini telah terlontar 8 tahun silam. Namun sampai saat ini belum ada kejelasan yang berarti dari pernyataan presiden ini.
Mungkin benar apa kata orang “ janji hanyalah janji “ tapi apakah pantas sebuah janji yang diucapkan oleh seorang presiden yang ditujukan kepada rakyat yang hanya sebuah kebohongan belaka, atau mungkin hanyalah sebuah politisasi.
Kejaksaan Agung yang menjadi tonggak keadilan belum bisa memberikan titik terang atas meninggalnya Munir. Padahal seperti yang kita tahu bahwa Jaksa Agung adalah wakil dari Tuhan.
Dihari meninggalnya Munir, beberapa aktivis dan dan para Sahabat Munir yang tersebar di beberapa Wilayah Inidonesia melakukan aksi secara serempak. Di jakarta beberapa Komunitas, Kampus dan aktivis penggiat HAM melakukan aksi di Kejaksaan Agung dan Selanjutnya melakukan mimbar bebas didepan Istana Kepresidenan.
Tujuan mereka dari tahun ke tahun tetap sama, yakni ingin segeranya mendapatkan keadilan seutuhnya untuk para korban pelanggaran HAM. Terlebih untuk Munir sendiri.
Berbagai Komunitas, Kampus dan aktivis penggiat HAM tersebut yang semuanya tergolong kedalam Sahabat Munir meliputi KOMASI (Komunitas Mahasiswa Sistem Informasi), KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Tindakan Kekerasan), JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota), Rumpin, KOMPAK, Sahabat Papua, Universitas Atmajaya, KSMT (Komunitas Sahabat Munir Tangerang), LBH Jakarta, Tragedi ’65 (Komnas Wanita) dll.
Untuk saat ini jumlah masyarakat yang perduli dengan kematian Munir memang belum berjumlah banyak, tapi tidak menutup kemungkinan detik demi detik setiap harinya jumlah mereka akan semakin banyak dan berlipat ganda.






0 komentar:
Posting Komentar